Download Buku Gratis _ Agama Jawa ( Clifford Geertz )

Download Buku Gratis _ Agama Jawa ( Clifford Geertz ) - Pada postingan ini Galeri Ebook membagikan ebook gratis terbaik dengan judul Download Buku Gratis _ Agama Jawa ( Clifford Geertz ), Galeri Ebook telah mempersiapkan ebook ini dengan baik untuk anda download dan baca isi ebooknya. Perlu digaris bawahi Galeri Ebook mendapatkan ebook ini dari situs download lainnya. Mudah-mudahan isi postingan yang Galeri Ebook bagikan ini dapat anda download dan membacanya. baiklah, selamat mendownload.

Judul Buku : Download Buku Gratis _ Agama Jawa ( Clifford Geertz )

Download Buku Gratis _ Agama Jawa ( Clifford Geertz )_Tanpa kita sadari waktu terus berjalan dan tiba - tiba telah 60 tahun saja—atau begitulah kira-kira— waktu berjalan sejak penelitian tentang sebuah kota kecil di Jawa Timur yang disebut dengan nama samaran “Mojokuto” dilakukan. Apa yang dulu dikatakan sebagai deskripsi dari situasi “kesekarangan” dari realitas sosial-kultural dari kota kecil itu, kini—60 tahun atau lebih kemudian—harus berganti sebutan menjadi gambaran*masa yang telah berlalu”. Andaipun ada unsur-unsur dari realitas masa lalu seperti berhenti saja, tanpa perubahan, bagaimanapun harus juga disadari bahwa yang tampak atau terasakan itu hanyalah bayangan dari masa lalu yang diabadikan.

Karena itu, terima sajalah kenyataan bahwa kesamaan itu hanyalah riil dalam imajinasi dan mungkin juga dalam ingatan yang diselimuti romantisme kesejarahan. Betapapun mungkin bentuk luar seperti biasa saja, tidak berubah apa-apa, sebagaimana yang dikenang, namun realitas yang autentik adalah gambaran dan struktur riil dari kekinian. Dalam perjalanan waktu yang sepanjang itu—sejak penelitian dilakukan sampai kini—peristiwa apakah yang tidak dialami oleh kota kecil yang disebut “Mojokuto”, sebuah kota kecil yang secara antropologis dipakai sebagai alat untuk menggambarkan masyarakat Jawa dalam miniatur.

 Setelah melalui revolusi nasional, yang memancarkan suasana penuh pengorbanan dalam suasana tanpa kepastian, “Mojokuto” di awal 1950-an itu ikut terbuai dalam optimisme kehidupan politik yang menjanjikan kebebasan yang demokratis. Berbagai partai politik dengan landasan ideologi dan bahkan juga gaya politik yang berbedabeda bermunculan dan bersiap-siap untuk ikut bertanding dalam pemilihan umum yang mudah-mudahan beijalan secara demokratis.

Di saat ini pulalah suasana sosial-politik memperlihatkan segala asumsi dan perilaku kultural pada tahapnya yang paling terbuka. Peneliatian ini berusaha menggambarkan struktur kesekarangan masyarakat dan bisa juga menjadikan sejarah sebagai alat untuk menerangkan “mengapa” dan “asal-usul sesuatu”. Ketika penelitian telah diselesaikan, ditulis, dan kemudian dipublikasikan, dinamika dari realitas kehidupan sosial terus juga beijalan. Kalau saja ingatan dilayangkan pada berbagai peristiwa dan suasana kesejarahan yang terpancar setelah penelitian ini diterbitkan, maka tampaklah betapa optimisme akan terciptanya suasana sosialpolitik yang diidam-idamkan temyata hanya menghasilkan kegelisahan.

Download Buku Gratis _ Agama Jawa ( Clifford Geertz )

Pemilihan Umum yang demokratis dijalankan, tetapi ternyata tidak berhasil membawa bangsa ke arah kehidupan sosial-politik yang diidam-idamkan. Dalam suasana ini bangsa seperti dengan begitu saja membiarkan dirinya terluluh dalam suasana “revolusi tanpa henti”. Inilah situasi sosial-politik yang menyibukkan diri dalam dinamika revolusioner untuk “membongkar, membangun, retooling, herordening” segala sesuatu. Dalam bayangan kharisma seorang Pemimpin Besar Revolusi apa yang dislogankan sebagai Manipol-USDEK (Manifesto Politik—UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, Kepribadian Nasional) dijadikan sebagai landasan dari perilaku politik yang dikatakan revolusioner. Kesemuanya dijalankan oleh tiga unsur ideologis dari kekuatan sosial-politik yang disebut NASAKOM (Nasionalisme, Agama, Komunisme).Download Buku Gratis _ Agama Jawa ( Clifford Geertz )

Inilah ikatan politik yang sah dan yang ditampilkan sebagai tulang punggung revolusioner dari kehidupan negara-bangsa. Hanya saja bagaimanakah akan membantah fakta sederhana ftahwa dalam suasana yang serba revolusioner ini kehidupan bangsa semakin tergelincir ke jurang krisis ekonomi yang semakin dalam dan menukik juga. Di tengah suasana sosial politik yang ditopang oleh sistem wacana yang bercorak serba hiperbol ini akhirnya negara pun tergelincir ke lembah situasi konflik.

Dalam suasana inilah “malam jahanam ” itu terjadi. Sejak itu peristiwa yang terjadi di peralihan malam 30 September ke subuh 1 Oktober (1965) itu tidak pernah terlupakan dalam ingatan kolektif bangsa. Di waktu itulah malapetaka besar di tanah air tercinta ini bermula. Maka bisalah pula dibayangkan betapa kota kecil ini—sebagaimana juga halnya dengan kota kecil dan wilayah pedesaan umumnya di Jawa Tengah dan Timur dan bahkan juga di beberapa daerah lain—harus mengalami berbagai corak pengalaman yang pahit dan perih yang sampai kini masih menyimpan ingatan yang memendam rasa dendam yang enggan sirna. Inilah saatnya ketika segala corak pertentangan yang selama ini dipendam dalam suasana keterikatan pada kesamaan kultural yang kohesif mengalami krisis yang teramat tragis. Ketika ada upaya mengarahkan pada kenegaraan dan kesamaan landasan dasar kultural mencair begitu saja. Kesemuanya mengalir dengan cepat dan terjadi dalam keperihan.

Maka begitulah, seperti dengan begitu saja dan tanpa terasa pula, hasil penelitian antropologis yang bersifat sinkronis, yang memancarkan suasana kesekarangan—meskipun mencari juga akarakar dari kelampauan—seperti tampil saja sebagai perafitara ketika struktur dari dinamika sosial hendak dipahami. Apakah unsur-unsur disintegratif ketika krisis terjadi kesemuanya seperti dengan begitu saja terlepas dari kekangan hukum atau bahkan apa saja? Malapetaka sosial yang teramat parah pun harus dilalui dan korban pun berjatuhan, ketika tatanan sosial di kota rusak.

Ada waktunya keperihan peristiwa telah mulai mereda dan bangsa pun mulai pula tergerak untuk melangkah memasuki suasana baru. Masa sibuk ber-“revolusi” ditinggalkan dan imbauan “pembangunan nasional semesta” didengungkan. Setahap demi setahap kesejahteraan rakyat mulai membaik dan bahkan keadaan kota di Indonesia mulai berubah dengan munculnya kota baru yang mendukung kota besar. Jumlah dan panjang jalan dan jembatan baru pun bertambah pula. Tetapi, seperti dulu juga—seperti zaman yang telah berakhir dengan krisis yang teramat keras itu—bukan hanya sistem kekuasaan, bahkan juga wacana politik pun berada dalam genggaman sang penguasa. Dengan strategi “merayakan atau melupakan” ingatan kolektif bangsa tentang hal dan peristiwa yang pernah dilalui dalam dinamika perjalanan sejarah dikuasai sang penguasa pula.

Situasi Struktural Masyarakat

Sementara itu, dominasi sistem kekuasaan dan penguasaan ekonomi semakin menemukan kesesuaian. Maka oligarki pun semakin menampilkan dirinya meskipun negara secara formal tetap saja menyebut dirinya demokratis, bahkan juga ditambahi embel-embel “Pancasila”. Dalam perjalanan waktu, semakin nyatalah betapa keberlanjutan kekuasaan yang tanpa akhir hanyalah impian belaka. Ketika puncaknya telah tercapai, di saat oligarki politik dan ekonomi seperti semakin tidak lagi terpisahkan, titik akhir pun datang juga. Ketika krisis moneter yang hebat terjadi dan seperti telah ditakdirkan kisah sejarah yang telah berlanjut selama lebih dari 30 tahun pun harus berakhir juga.

Demikianlah lukisan dan uraian yang mendalam tentang “Mojokuto” pun seperti berubah menjadi uraian tentang “masa lalu”—masa yang tidak akan pernah kembali lagi. Seakan-akan dengan tiba-tiba saja uraian kontemporer tentang kota ini—kota yang dijadikan sebagai miniatur dari gambaran sosial-kultural dari sebuah kesatuan etnis—telah berubah menjadi kaca perbandingan tentang corak dan dinamika sejarah. Kini bisalah pula dirasakan betapa uraian yang mendalam tentang sebuah kota kecil di Jaw a Timur pada 1950-an sesungguhnya tidak sekadar memberi gambaran yang bersifat sinkronis, kesekarangan, tetapi berfungsi juga dalam usaha untuk melakukan tinjauan yang diakronis—ketika dinamika dari perjalanan waktu telah diperhitungkan.

Di saat berbagai peristiwa yang terjadi sesudah penelitian ini telah berakhir, maka uraian yang serba mendalam tentang kota kecil ini pun bisa tampil sebagai salahsatu jembatan untuk mendapatkan jawaban di saat pertanyaan “mengapa” diajukan. Uraian kekinian dari tahun 1950-an itu dapat secara hipotetis dijadikan sebagai panggungsejarah—stage o f history—di atas mana segala corak peristiwa terjadi di kota kecil ini dan bahkan di seluruh wilayah kebudayaan Jawa.

Penelitian pun bisa pula memberi—langsung ataupun tidak—tandatanda dari perubahan sosial-kultural yang telah terjadi dalam perjalanan waktu. Jik a direnung-renungkan buku tentang sebuah kota kecil sesungguhnya adalah pula sebuah petunjuk dalam usaha mencari jawaban atas pertanyaan sebab-sebab struktural dan kultural dari berbagai peristiwa yang kemudian teijadi. Buku ini pun dapat juga berperan sebagai penuntun awal dalam usaha mendapatkan makna dari irama kesejarahan yang melanda wilayah kebudayaan dari kota kecil yang disebut “Mojokuto” itu.Download Buku Gratis _ Agama Jawa ( Clifford Geertz )

Jika ingin membaca buk karya dari Clifford Gertz yang berjudul Agama Jawa dalam format PDF silahkan unduh pada link : Download



Sekianlah postingan di atas Download Buku Gratis _ Agama Jawa ( Clifford Geertz ) ini, mudah-mudahan sesuai apa yang anda inginkan. Jika berkenan silahkan beli buku premiumnya di toko buku online kepercayaanmu. Baiklah, sampai jumpa di postingan ebook terbaik lainnya.

Anda sekarang membaca postingan rangkuman buku yang berjudul Download Buku Gratis _ Agama Jawa ( Clifford Geertz ) dengan alamat link https://galeriebook-id.blogspot.com/2020/07/download-buku-gratis-agama-jawa.html
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

Belum ada Komentar untuk "Download Buku Gratis _ Agama Jawa ( Clifford Geertz )"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel